Headlines News :
Hosting Gratis

WILAYAH :

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label wilayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wilayah. Tampilkan semua postingan

Pulau Bokor

Written By Unknown on Selasa, 06 Oktober 2009 | 03.29


Letak dan Luas
Pulau Bokor seluas 18 ha terletak di sebelah Utara Teluk Jakarta (sebelah barat Pulau Rambut). Secara geografis terletak antara 106°41' Bujur Timur dan 5°57'Lintang Selatan.

Status Hukum
Pulau Bokor ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Gouvernour General Hindia Belanda Nomor. 60 Tanggal 16 Nopember 1921 di Jakarta (Stbl.No.683). / GB Nomor. 60, Stbl. 683

Potensi Flora dan Fauna
Flora :
Jenis pohon yang banyak ditemukan diantaranya Cemara Laut (Casuarina equisetifolia), Ketapang (Terminalia cattapa), Baru laut (Thespesia populnea), Mengkudu (Morinda citrifolia), Saga Pohon (Adenanthera microsperma), Kayu Hitam (Diospyros maritima), Melinjo (Gnetum gnemon), Jati Pasir (Guettarda speciosa). Tumbuhan bawah yang mendominasi hutan pantai ini adalah Kingkit (Triphasia trifolia) yang tumbuh dengan rapat pada permukaan tanah/pasir.

Keanekaragaman Hayati Cagar Alam Pulau Bokor merupakan pulau Karang, namun tidak memiliki daratan berpayau sebagaimana Pulau Rambut.

Fauna :
Beberapa jenis burung yang dapat dijumpai di dalam kawasan ini antara lain dara laut (Ducula bicolor), Burung Air (Fregata ariel) dan Kepodang (Oriolus chinensis). Di pulau Bokor juga dapat dijumpai Kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang merupakan jenis introduksi. Kera ini diintroduksikan di Cagar Alam Pulau Bokor pada tahun 1975 sebanyak 20 ekor namun dalam waktu satu tahun jumlahnya berkurang menjadi hanya 4 ekor (1976). Selanjutnya keempat ekor kera tersebut berkembang kembali menjadi 6 ekor (1997).

Aksesibilitas
Untuk mencapai lokasi hanya dapat dilakukan dengan menggunakan speed boat atau perahu motor dari beberapa pelabuhan sebagai berikut :

Aksesibilitas
Untuk mencapai lokasi hanya dapat dilakukan dengan menggunakan speed boat atau perahu motor dari beberapa pelabuhan sebagai berikut :
  1. Dari pelabuhan Marina Ancol dengan menggunakan speed boat dapat ditempuh +/- 40 menit.
  2. Dari pelabuhan Muara Angke dengan menggunakan perahu motor nelayan dapat ditempuh selama +/- 2 jam.
  3. Dari pelabuhan Muara Kamal dapat ditempuh dengan perahu motor nelayan selama +/- 1,5 jam.
  4. Dari pelabuhan Tanjung Pasir, Tangerang dapat ditempuh dengan menggunakan perahu motor nelayan +/- 1 jam.

Pulau Ayer

Written By Unknown on Minggu, 04 Oktober 2009 | 11.34


Pulau Ayer, kalau kita denger namanya seperti nama tempat pariwisata di daerah Sukabumi, tapi itu disebut PULAU AIR, sedangkan pulau Ayer terletak di Pulau Seribu yang letaknya masih di dalam daerah Jakarta. Hanya 30 Menit perjalanan dari Marina Ancol dengan menggunakan perahu motor. Tempat rekreasi pantai ini menyediakan banyak hiburan untuk keluarga. Ada Children Playing Ground & Swimming Pool, semuanya free tanpa harus mengeluarkan budget lagi. Namun untuk fasilitas yang lain seperti jet ski, banana boat, Canoe & Karaoke Room itu ada harga tersendiri.

Dengan keunikan penginapannya Pulau Ayer menjadi salah satu Pulau favorit di Pulau Seribu. Tema fasilitas di Pulau Ayer lebih banyak mengambil tema dari Indonesia Timur. Itu bisa dilihat dari nama-nama cotagge mereka, Serui, Fak-fak, Ayamaru, Cendrawasih dll. Jika Anda ingin merasakan rekreasi ke Pulau Seribu, Pulau Ayer bisa jadi pilihan utama Anda walaupun belum bisa snorkeling. Namun demikian, Anda bisa menikmati fasilitas yang lain di Pulau Ayer.

Pulau Ayer dijuluki sebagai Mutiara Kepulauan. Luasnya kurang dari sepuluh hektar, letaknya berdekatan dengan Pantai Marina, Ancol.

Daya tarik
Pulau ini mulai dikunjungi sejak tahun 1950. Bahkan semasa hidupnya, mantan Presiden Sukarno menjadikan Pulau Ayer ini sebagai tempat peristirahatannya. Mantan Presiden Sukarno juga pernah mengajak mantan Presiden Tito dari Yugoslavia dan mantan Sekretaris Jenderal PBB, U Nu, berkunjung ke pulau ini. Cottage apung di atas air dengan gaya etnik Papua adalah kebanggaan pulau resor yang jaraknya hanya 14 km (30 menit) dari Marina Ancol.

Di pulau ini juga tersedia cottage yang terletak di pantai, fasilitas memancing di waktu malam, jet ski dan banana boat. Pulau ini merupakan salah satu pulau di Kepulauan Seribu yang mempunyai sumber air tawar.

Pulau Onrust

Written By Unknown on Sabtu, 03 Oktober 2009 | 22.32


Pulau Onrust dulunya mempunyai luas hanya 12 Ha. di perairan Kepulauan Seribu bagian barat Teluk Jakarta. Bila dilihat dari bentuk permukaannya, pulau ini menunjukkan bahwa Pulau Onrust merupakan sebuah pulau karang yang berpasir dan berlumpur namun ditumbuhi dengan semak belukar yang teramat subur dengan dasar lumpur. Sekian lama tergores oleh zaman, sekarang pulau ini hanya mempunyai luas sekitar 7,5 Ha. Penduduk setempat dan pulau sekitarnya biasa menyebut pulau ini dengan sebutan Pulau Kapal. Konon dulunya di pulau ini banyak sekali disinggahi kapal-kapal besar yang berlayar dan sandar di sini. Namun bagi kalangan VOC dan masyarakat yang dipekerjakan di pulau ini menyebutnya dengan Onrust Eiland (Pulau Onrust) yang berarti pulau yang tanpa istirahat atau pulau sibuk.

Sejarah mencatat bahwa sebelum VOC merebut Jayakarta dan kemudian menggantikannya menjadi Batavia, mereka telah terlebih dahulu membangun Pulau Onrust (1613), sebuah pulau di gugus Kepulauan Seribu, dan dua tahun kemudian mulai dioperasikan sebagai sebuah galangan kapal, tempat dimana kapal-kapal yang lelah setelah menempuh jarak separuh bumi datarik ke pantai, dimiringkan, ditambal dan papan-papannya yang lapuk dilakukan penggantian.

JP Coen, pendiri Batavia yang selalu merasa curiga pada orang-orang Jawa (yang dimaksud dengan orang Jawa oleh VOC adalah orang Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan bahkan orang dari Kampung Jawa yang sudah ada pada masa itu di Palembang), lebih suka memanfaatkan migran dari Tionghoa untuk menjadi pekerja kasar di Pulau Onrust. Berkat bantuan Souw Beng Kong (migran Tionghoa yang menjadi kapiten pertama untuk komunitas Tionghoa pada awal berdirinya Batavia), sejumlah tenaga terampil dari migran Tionghoa, terutama para tukang kayunya dipaksa untuk bekerja di galangan kapal di Pulau Onrust itu.

Untuk melindungi pulau yang kini semakin habis termakan abrasi ini, pada pertengahan abad 17, VOC melengkapi pulau ini dengan meriam-meriam yang ditempatkan di pantai dan benteng-benteng pengintai. Dismping itu, juga dibangun sebuah kubu dan kemudian pada tahun 1671, artileri juga ditempatkan di tempatkan di pulau-pulau sekitar Pulau Onrust, seperti Pulau Cuyper, Bidadari dan Khayangan untuk melindungi kapal yang tengah diperbaiki maupun melindungi muatan kapal terhdap serangan perompak asal Perancis yang dipimpin oleh Francois Caron, ataupun dari perompak laut lainnya yang memang banyak jumlahnya.

Pada abad ke 17 dan 18, Pulau Onrust, mempunyai peranan yang sangat penting bagi kompeni yang sepenuhnya menyandarkan kekuatannya pada kapal layar. Didukung oleh tukang-tukang kayu yang sangat terampil, galangan kapal di pulau kecil ini mampu pula memperbaiki Kapal Endeover yang mengalami kerusakan besar setelah keliling dunia (1770). James Cook, seorang kapten kapal yang juga banyak menuliskan laporan tentang Batavia memujinya dengan sebutan sebagai galangan kapal terbaik di seluruh belahan timur bumi.

Sekitar tahun 1775, di Pulau Onrust tinggal sekitar 1.200 orang. Sebagian besar dari mereka adalah tukan kayu kapal, tentara disamping juga sejumlah kelasi yang kena hukum kerja paksa. Dua tahun kemudian masuk pula sekitar 300 budak belian, diantaranya pula terdapat puluhan wanita. Pulau kecil ini pun menjadi penuh sesak dengan aneka rupa orang, disamping kapal-kapal yang berlayar berbulan-bulan dari Eropa ke Jawa atau dari India, Jepang dan juga dari Ambon ke Batavia.

Pada tahun 1800 pasukan Inggris datang memblokade Batavia. Mereka kemudian menghanguskan apa saja yang ada di pulau ini. Tidak puas hanya itu, enam tahun kemudian, 1806 mereka datang lagi dan tidak menyisakan apapun dari pulau galangan yang pada abad-abad sebelumnya begitu populer namanya di duinia pelayaran internasional. Keriuhan di Onrust pun seolah terhenti. Pada masa Deandels yang mencanangkan pembangungan Niew Batavia, karena Oud Batavia telah dianggap sudah tidak layak lagi dihuni, sisa-sisa bangunan dari Pulau Onrust juga bangunan-bangunan di Oud Batavia dibongkar. Bahan-bahannya digunakan untk membangun Weltervreden (Kawasan Gambir kini) yang dijadikan pusatnya Niew Batavia, termasuk di dalamnya bangunan Istana Deandels yang sekarang menjadi Kantor Menteri Keuangan di Lapangan Banteng.

Tidak lama kemudian, Inggris menguasai Batavia (1811-1816) dan St Raffles menjadi Letnan Gubernurnya. Pulau Onrust tidak disentuhnya. Sampai kemudian pada tahun 1823 Onrust kembali dipakai untuk memperbaiki kapal-kapal pemerintah Hindia Belanda maupun swasta. Sebuah dok kering terapung pada tahun 1856 juga dipasangkan di sana. Disusul kemudian tahun 1868 sebuah mesin bertenaga uap untuk melayani kapal-kapal besi di datangkan di kawasan ini. Namun kegemilangan Onrust seolah sudah terhenti, Pelabuhan Tanjung Priok yang lebih lengkap dan leluasa untuk persinggahan kapal-kapal yang semakin besar dioperasikan (1883).

Awal abad ke 20, Pulau Onrust kembali diramaikan sejumlah orang. Sekitar tahun 1911 pulau ini dimanfaatkan sebagai sanatorium bagi penderita TBC yang kian banyak jumlahnya di Batavia yang mulai kotor udaranya. Sanatorium ini kemudian dipindahkan ke Pulau Bidadari bersamaan dengan digunakannya Onrust sebagai Pos bagi calon jemaah haji yang akan berziarah ke Mekkah (1920).

Tidak lama kemudian (1933), sejumlah tahanan ditempatkan di pulau ini, termasuk diantaranya ratusan laki-laki Jerman Interniran Sipil terutama setelah Jerman menduduki Belanda. Salah satu warga Jerman yang internir di pulau ini adalah keturunan Yahudi. R. Frukstuck namanya. Semula ia mengungsi dari Jerman ke Singapura pada saat Hitler melakukan Genocida atas emua turunan Smith. Karena di Singapura pun ia merasa terus dikejar Nazi, ia pindah ke Hindia Belanda. Namun karena ia juga masih berkewarganegaraan Jerman, maka ia pun disingghkan di pulau ini bersama interniran Jerman lainnya.

Kemudian Indonesia pun merdeka. Tahanan dan penjaga di Pulau Onrust berhamburan mencari selamat. Pulau Onrustpun tidak Onrust (ramai) lagi. Sementara itu Jakarta nama baru Batavia bersamaan dengan masuknya bala tentara Dai Nippon, mulai dirasakan begitu sesak. Migran dari pelosok Nusantara berlomba masuk ibukota. Pada saat yang sama negara yang baru merdeka ini hanya menyisakan semangat. Uang tidak ada akibatnya begitu banyak penyakit menyerang warga Jakarta. Untuk itu Onrust kembali dimafaatkan. Kali ini untuk mengisolasi orang-orang yang menderita penyakit menular, gelandangan dan pengemis jalanan (1960-1965). Tidak ada catatan yang pasti tentang pulau ini setelah dijadikan tempat isolasi penderita penyakit ,menular dan gelandangan itu. Sampai kemudian Ali Sadikin dilantik Bung Karno menjadi Gubernur Jakarta Raya (1966-1977). Pada masa Bang Ali inilah Onrust dijadikan sebagai salah satu situs sejarah yang dilindungi.

Pulau Cipir (Khayangan)


Pulau Kahyangan disebut juga Pulau Cipir atau Kuiper Eiland. Pulau ini merupakan salah satu pulau di Kelurahan Untung Jawa, yang sudah mulai di tata untuk tujuan wisata. Di pulau ini terdapat peninggalan sejarah, yaitu sebuah benteng yang dibangun oleh Belanda pada zaman VOC. Disini ada sumber air tawar yang jernih dan bersih. Perjalanan ke Pulau Kahyangan bisa ditempuh dengan perahu motor yang memang disediakan untuk melayari rute Pantai Marina, Ancol, ke Pulau Kahyangan, pergi dan pulang.

Pulau Cipir atau Pulau Kahyangan menyimpan bekas-bekas sejarah serupa dengan Onrust. Pulau ini juga pernah menjadi tempat karantina jemaah haji (1911-1933) dan kini tinggal puing-puing bekas barak haji, rumah sakit, dan tempat penampungan jemaah haji yang terkena penyakit menular. Di pulau ini terdapat beberapa meriam kuno berusia sekitar 3 abad, buatan Belgia yang dulunya berfungsi sebagai senjata pertahanan.

Di ujung pulau ini terdapat beberapa pondasi Jembatan Ponton. Peninggalan bersejarah ini, diperkirakan telah ada sejak tahun 1911. Saat air laut surut, nampaklah susunan batu bata merah yang tersusun sebagai pondasi dermaga kecil di Pulau Kahyangan. Dulunya setelah Indonesia merdeka dermaga ini digunakan sebagai penerimaan kedatangan para jemaah haji untuk dikarantina.

Sayang, pulau yang indah ini, belum dilengkapi sarana penginapan. Pengunjung yang ingin bermalam, harus membawa tenda dan peralatan camping sendiri.

Pulau Edam (Damar Besar)


Pulau ini merupakan garis depan pertahanan militer Jepang dan masih terkenal dengan mercusuar yang sudah langka. Pulau ini juga disebut Pulau Damar Besar karena banyak pohon damar tumbuh di sini. Pulau ini kini berada di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.

Mercusuar yang dibangun tahun 1879 ini berdiri setinggi 60 meter dan seluruhnya dibuat dari besi pelat. Untuk tiba di puncak mercusuar, pengunjung harus melalui lebih dari 270 anak tangga. Mercusuar ini berfungsi membantu navigasi kapal yang akan memasuki Pelabuhan Tanjung Priok.

Dari jarak 20 mil, mercusuar ini sudah bisa terlihat. Di masa lalu, mercusuar menggunakan api bertenaga minyak tanah. Kini menggunakan tenaga listrik berdaya 1.000 watt.

Dalam buku Sejarah Teluk Jakarta terbitan tahun 1996 milik Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta kala itu (kini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta - Red) disebutkan bahwa Pulau Edam menyimpan banyak peninggalan kepurbakalaan terutama masa kolonial Belanda dan pemerintahan Jepang di Indonesia. Peninggalan lain selain mercusuar adalah benteng.

Benteng di Pulau Edam terletak di sebelah timur laut pulau ini. Bangunan inti berbentuk kerucut terpancung. Lima tahun lalu benteng ini terlihat tak terlalu utuh, namun masih terlihat bentuk benteng. Tembok benteng juga sudah penuh dengan lumut dan tertutupi tanaman menjalar. Dalam buku itu disebutkan juga, berdasarkan literatur perbentengan fungsi bangunan itu bukan untuk benteng melainkan sebagai tanggul meriam atau batterij berdiameter sekitar 10 m.

Bangunan inti sebagian massive dan sebagian berongga. Bagian yang berongga merupakan ruang bawah tanah. Ruang bawah tanah atau bunker ini tak lagi bisa dimasuki karena, lima tahun lalu, kondisinya sudah tertutup tanah dan akar pohon.

Pulau seluas sekitar 36 hektar ini merupakan pulau yang pernah direncanakan sebagai tempat perjudian. Alwi Shahab menyebutkan, di tahun 1950-an Walikota Sudiro sempat mempunyai rencana membuat perjudian legal di Kepulauan Seribu dan Pulau Edam menjadi alternatif sebagai lokasi strategis karena lokasinya tak jauh dari Pelabuhan Tanjung Priok.

Di pulau ini juga terdapat makam Syarifah Fatimah, Wali Sultan Banten. Sejarah keberadaan bangunan-bangunan di sini belum terkuak jelas. Pulau ini juga semakin sepi dan makin terkesan menyeramkan karena tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah.

Keterangan :
Mercusuar di Pulau Edam ini dibangun tahun 1879. Tingginya 60 meter dan seluruhnya dibuat dari besi pelat. Untuk tiba di puncak mercusuar, pengunjung harus melalui lebih dari 270 anak tangga (klik gambar untuk memperbesar).

Pulau Edam yang dikelola Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Laut Departemen Perhubungan (Dephub) itu dulu pernah menjadi tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Johannes Champhuis. Adolf Heuken menulis bahwa tempat peristirahatan bertingkat dua itu dibangun tahun 1685. Tahun 1691 Champhuis menyerahkan rumah itu ke penerusnya, Joan Van Horn. Rumah itu terus digunakan oleh gubernur jenderal selanjutnya hingga diambilalih oleh VOC pada 1 Februari 1709. Sisa bangunan itu kini hanya berupa fondasi.

Andai saja armada Inggris tidak menghancurkan semua bangunan di pulau ini pada tahun 1800, barangkali, sisa kincir angin masih bisa terlihat. Kincir angin dibangun pada 1705 demi kepentingan penggergajian kayu dan bengkel pemintalan tali jangkar. Saat Jepang menguasai Indonesia, mereka meninggalkan gudang peluru di pulau sunyi ini.

Pulau Bidadari

Written By Unknown on Selasa, 29 September 2009 | 08.02


Pulau Bidadari hanya 30 menit dari Marina Ancol. Di pulau ini banyak terdapat sejarah seputar Kolonial Belanda (VOC) seperti Benteng Belanda dan di sana terdapat juga Musium Belanda. Tetapi anda harus berkunjung ke Pulau Onrust yakni pulau di sebelahnya.
Pulau Bidadari mempunyai beberapa type cottage, seperti deluxe, family, dan vip. Cotagge dipulau bidadari bersih dan rapih. Dipulau bidadari terdapat cottage diatas laut / floating cottage. Dari floating cottage anda dapat memancing juga akan menemukan suasana yang jauh berbeda berbeda.
Pulau Bidadari merupakan salah satu tempat wisata di Pulau Seribu dengan menggunakan speed boat kita hanya membutuhkan waktu 20 - 30 menit untuk sampai ke sana. Dengan design Indonesia style (Jawa & Manado), dulu sebelum dinamakan Pulau Bidadari, Pulau ini biasa disebut dengan Pulau Sakit. Karena dulunya pulau ini biasa digunakan untuk tempat pengasingan bagi orang yang terkena penyakit Kusta/Lepra.
Tapi sekitar tahun 1976 Pulau ini ( Pulau Sakit ) mulai berbenah diri, mereka ingin mempunyai Pulau yang dapat di buat rekreasi untuk orang- orang yang tinggal di Jakarta. Maka pada tahun 1976 , Pulau ini berubah menjadi Pulau Bidadari. Pulau ini sebenarnya merupakan tempat bersejarah, di Pulau ini terdapat Benteng Martelo ( Benteng peninggalan sejarah Belanda ), Pulau Bidadari diapit 3 Pulau, Pulau Kelor, Onrust & Cipir. Fasilitas di Pulau Bidadari tidak berbeda dengan Pulau-pulau resort yang ada di Pulau Seribu, Jet Ski, Banana Boat, AVT, Fun Bike dll.

PULAU KELOR

Written By Unknown on Minggu, 27 September 2009 | 18.47

Pulau Kelor (kherkof) berukuran paling kecil daripada Onrust, Bidadari, dan Cipir luasnya sekitar 3 hektar. Disana bisa melihat bangunan Benteng Martello peninggalan Belanda yang berbentuk melingkar. Arsitektur benteng ini hampir sama dengan yang ada di Pulau Bidadari. Namun dari Benteng Martello yang ada di Pulau Kelor lebih besar dan lebih luas.
Sisa bangunan Benteng Martello yang masih berdiri di pulau ini berupa ruang bagian tengah benteng. Dinding benteng lingkar luarnya sudah porak poranda diterjang gelombang dasyat dari letusan Gunung Krakatau. Pulau kecil ini tak berpenghuni. Tak ada warung dan sarana penginapan. Dianjurkan untuk tidak menginap di Pulau Kelor karena anginnya bertiup sangat kencang. Pulau Kelor mempunyai kelebihan tersendiri berupa pantai yang indah. Di pantainya banyak terdapat rumah-rumah kerang berwarna-warni. Selain itu kita juga disuguhkan pesona matahari terbit yang menawan.

Komentar ?

di e-mail : puja54@ymail.com

Pulau Rambut

Written By Unknown on Sabtu, 26 September 2009 | 21.33


Pulau Rambut terkenal juga dengan nama Pulau Kerajaan Burung. Luasnya 45 hektar. Pulau ini di tumbuhi hutan bakau yang rimbun serta terumbu karang yang sangat indah. Orang Belanda menyebut pulau ini dengan nama Nidelberg. pada keadaan biasa, diperkirakan sekitar 20.000 burung hidup di pulau ini. Di bulan Maret sampai September, jumlah itu meningkat menjadi hingga 50.000 burung. Burung-burung itu diperkirakan datang dari Australia.

Pulau Burung oleh Pemerintah ditentukan sebagai cagar alam burung. Pulau Burung terletak di sebelah Utara Jakarta tepatnya disebelah Barat Pulau Untung Jawa.

Pulau Rambut yang dulunya disebut Midburt Eiland merupakan pulau yang tidak dihuni oleh manusia. Yang akhirnya burung-burung dari manca negara sangat senang menjadikan pulau ini sebagai klinik bersalin mereka. Apalagi di sini banyak ditemui pohon-pohon yang batangnya tinggi sampai 15m atau lebih yakni Pohon Kepuh dan Kedoya.

Sebagai salah satu dari gugusan Kepulauan Seribu, pemandangan di sini sangat unik lantaran kita nantinya disuguhkan aroma bulu burung, bau kotoran mengering dan di dahan maupun semak serta daun-daun disirami kotoran burung maupun kalong yang mulai mengering dan berwarna seperti kapur.

Bagi pengunjung yang singgah di sana disarankan agar mengenakan topi semacam topi rimba, ponco ataupun payung (joke) untuk menahan derasnya "Bom" yang sewaktu-waktu dilepaskan dari pesawat berdaging.

Bila diperhatikan prilaku mereka sering terjadi keanehan saat memberi makan anak-anaknya, atau sedang dalam posisi akan bertelur para burung ini terusik oleh suara bising seperti pesawat terbang atau gaduh. Mereka menjadi stres dan menunjukkan perilaku aneh seperti menyepak anak atau telurnya keluar sarang sehingga terjadilah pemandangan hujan telur burung dari angkasa, di samping hujan kotoran mereka, juga anak-anak burung yang berjatuhan.
Pendatang yang ingin melihat lautan burung-burung yang bertengger di pepohonan, oleh pengelola kawasan sudah menyediakan sarana melihat burung dari menara besi. Jalan setapak yang diberi tanda dengan galangan semen menuntun kita tanpa khawatir akan tersesat. Hanya disarankan berhati-hatilah dalam perjalanan, sebab di sekitar kita saat itu banyak sarang biawak dan ular. Hanya disarankan untuk tidak menimbulkan gaduh yang mengganggu mereka. Menara pengamat burung cukup tinggi. Dan kalau sudah berada di sana, rasanya semua letih akan terobati. Apalagi kalau pengunjung membawa lensa tele dan sebagainya.

Dalam lingkungan Pulau Rambut kiranya Tuhan sudah menciptakan rangkaian rantai makanan yang berkesinambungan sehingga anak-anak burung, telur-telur yang pecah kalau dibiarkan akan membusuk dan bisa-bisa seluruh pulau rambut akan berbau bangkai. Untunglah alam menyediakan Ular Phyton, ular cincin mas, dan biawak yang bertugas membersihkan bangkai ini.

Komentar ?
di e-mail : puja54@ymail.com

MENYEDIAKAN :

Sticker Ekslusif Pulau Untung Jawa,
dan aksesoris khas Pulau Untung Jawa
bagi setiap pengunjung yang datang
dengan menghubungi Koordinator Web,
mendapatkan harga khusus di counter puja54.
 
Terimakasih atas kunjungan Anda. Silahkan untuk berkunjung dilain kesempatan...!